Tulang berperan sebagai bagian dari sistem imun

Tulangadalah jaringan yang hidup dan sebagai jaringan penghubung (connective tissue) yang mempunyai tigafungsi,yaitu untuk gerakandan melekatnya otot (fungsi mekanik), untuk melindungiorgan vital, dan sebagai cadangan kalsium dan fosfat (Sherwood, 2004; Baron, 2006).

Selainitutulang juga berperan sebagaibagian dari sistem imun yaitu pada sumsum tulang, sebagai tempat pengolahan limfosit yang dipersiapkan untukmembentuk antibodi (Seeman dan Delmas, 2006; Guyton dan Hall, 2007).Tulang merupakan struktur yang dinamik dan menjalani proses regenerasisecara terus-menerus yang dinamakan proses remodeling (Manolagas, 2000). Sambo dan Adam (2009) menyatakan bahwa tulangadalah suatu jaringan tubuh yang dinamik dan mengalami perubahan sepanjangkehidupan serta merupakan tempat penyimpanan kalsium terbesar. Sehingga jikaterjadi penurunan kalsium plasma yang berlangsung lama karena berbagai sebabmaka tubuh akan mengambil kalsium dari tulang.Tulang tersusun atas sel dan matriks seluler.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Sel-seltulang terdiri atas sel osteoprogenitor, sel osteoblas, sel osteoklas, dan selosteosit. Sel osteoprogenitor berasal dari mesenkim yang memiliki kemampuanmitosis sebagai sumber sel baru dari osteoblas dan osteoklas (Compston, 2001).Sel osteoblas adalah sel yang berfungsi sebagai pembentuk tulang (Arnett,2003).

Sel osteoklas adalah sel yang berperan pada proses resorpsi tulang(Arnett, 2003). Sel osteosit adalah sel osteoblas yang terbenam dalam matrikstulang (Arnett, 2003), bertugas untuk mendeteksi adanya perubahan dan gangguanpada tulang seta memberikan sinyal untuk perbaikan sehingga osteosit menjadikontrol remodeling tulang (Noble, 2008; Verbogt et al., 2000). Matriks seluler memiliki komponen organik dan anorganik sebagaipenyusunnya. Ditinjau dari beratnya, jaringan tulang tersusun atas 70% mineral(matriks anorganik), 20-25% matriks organik dan 5-8% air(Seeman dan Delmas, 2006).Senyawa organik utamapenyusun tulang adalah protein, dan protein utama penyusun tulang adalahkolagen tipe I yang merupakan 90-95% bahan organik utama sedangkan sisanyaadalah medium homogen yang disebut substansi dasar (Baron, 2006).Kolagen adalah salah satuprotein yang penting untuk tulang .

Kolagen memberikan elastisitas tulang dankemampuan untuk menyerap energi saat deformasi mekanik (Laurney et al., 2010).Sedangkan bahan anorganik utama penyusun tulangadalah garam kristal yangdiendapkan di dalam matriks tulang terutama terdiri dari kalsium dan fosfor yang dikenal sebagai kristal hidroksiapatit (Guyton,2004; Murray, 2003). Matriks tulang tersusun atas depositkalsium dan fosfat pada tulang (Guyton dan Hall, 2007). Kalsium dibutuhkan untuk mineralisasi tulang danpenting untuk pengaturan proses fisiologik dan biokimia. Kalsiumdiperlukan untukmemaksimalkan masa tulang dan mempertahankan densitas tulang yang normal (Groffdan Gropper, 2000). 2.

1.1Biomekanika Tulang       Sifat mekaniktulang merupakan kombinasi antara kekuatan (strength)yaitu stress yang dapat ditahantulang tanpa menimbulkan fraktur, keuletan (toughness)yaitu jumlah energi yang dapat diserap oleh tulang sebelum fraktur, kekakuan (stiffness) yaitu kemampuan tulang untukbertahan terhadap deformasi akibat gaya yang mengenainya, dan keletihan (fatigue) yaitu kemampuan tulang untukbertahan terhadap beban yang berulang (Laurney et al., 2010). 2.1.

2Remodeling Tulang       Remodeling tulang merupakan siklus pembentukan tulang baru yang terjadisecara terus menerus. Secara normal, proses ini terjadi dengan mengganti seltulang yang sudah tua dengan pembentukan sel tulang baru. Proses remodelingtulang mengontrol pembentukan tulang kembali selama pertumbuhan, dan akanterjadi apabila terjadi kerusakan tulang dan menggantinya dengan yang baru(Kini dan Nandeesh, 2012). Siklus normalremodeling tulang melibatkan adanya proses resorpsi tulang dan pembentukantulang yang bekerja secara terkoordinasi. Adanya koordinasi antar sel osteoblasdan osteoklas dalam proses remodeling ini mengakibatkan jaringan tulang akantumbuh secara dinamis.

Osteoblas bertanggung jawab untuk pembentukan tulang dan osteoklas bertanggungjawab untuk penyerapan tulang (Maudy, 1995). Terjadinya proses pembentukantulang berlangsung lebih lama dibanding dengan terjadinya resorpsi tulang(Manolagas, 2000). Proses remodelingterjadi dalam 4 faseutama, yaitufase aktivasi, fase resorpsi, fase formasi, dan fase mineralisasi.            Faseaktivasi merupakanlangkah awal sebelum terjadinya resorpsi tulang.

Dalam fase iniosteoklas tertarik ke area permukaan bagian dalam tulang. Fase berikutnyaadalah fase resorpsi. Padafase ini terjadi dua tahap yang saling tumpang tindih antaratahap pembentukan rongga-rongga tak beraturan oleh osteoklas. Pada fase ini sel osteoklas mulai merusak matriks mineral tulang.Resorpsi osteoklastikmenghasilkan rongga tidak teratur pada permukaan tulang trabekular, yangdisebut Howship’s lacunae, atau Haversian canal dalam tulang kortikal.Tahap reversal adalah saat ronggatidak teratur yang telah dibuat oleh osteoklas diisi dengan semen sementaradalam waktu 7-10 hari. Fase resorpsiyang dimediasi sel osteoklas ini kurang lebih membutuhkan waktu 2-4 minggu.

Setelah fase resorpsi sudah selesai, maka dilanjutkan dengan fase formasi yangdilakukan oleh osteoblas yang membutuhkan waktu 12 minggu pada orang muda dan16-20 minggu pada usia menengah atau lanjut. Fase terakhir adalah fasemineralisasi yaitu pengendapan mineral di dalam tulang yang baru (Kini dan Nandeesh, 2012; Gomez, 2006).Fase-fase remodeling tulang dapat dilihat pada Gambar 2.1.                  Gambar2.

1 Fase remodeling tulang (Sumber: Baynes dan Dominiczak, 2015)Makasemakin lama waktu perlakuan akan memberikan efek yang semakin terlihat.Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya proses resorpsi yang kemudiandilanjutkan dengan proses formasi adalah 2-4 minggu (Kini dan Nandeesh, 2012). 2.

2 Patologi Anatomi Jaringan Tulang      Patologi Anatomi merupakan salah satu cabangilmu kedokteran yang mempelajari mengenai sel dan jaringan. Pemeriksaanpatologi anatomi dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis dan menentukanterapi yang tepat. Pemeriksaan ini dilakukan dengan pembuatan preparat darijaringan tubuh manusia (Hastuti.

2011)             Gambar2.2Skema penyusunanjaringan tulang (Sumber : Junqueira, 2007)Osteoblas mensintesis kolagen , yang membentuk matriks tulang. Secarabertahap , osteoblas berdiferensiasi menjadi osteosit yang terperangkap dalammatriks tulang yang beru terbentuk. Osteoklas yang terletak dalam lakunaHowship berfungsi untuk mendegradasi sel yang mati.  Gambar 2.3 Strukturtulang mikroskopik (Sumber : Deep Blue, University of Michigan)  Gambar 2. 4 Susunansel tulangA.

    OsteoblasB.     OsteositC.     OsteoidD.    Cement Line E.     Tulang Matur(Sumber : Bone Lab, Yale University, 2012)             Jaringan tulang secar histologis tersusunatas matriks tulang dan sel-sel tulang. Matriks tulang tersusun atas bahananorganik dan bahan organik. Sebagian besar bahan anorganik dalam matrikstulangadalah kalsium dan fosfor, namun bikarbonat, sitrat, kalium, natrium, danmagnesium juga terkandung dalam matriks tulang.

Sedangkan bahan organik dalammatriks tulang adalah kolagen tipe I dan subsansi dasar, yang mengandungagregat preoeoglikan dan beberapa glikoprotein struktural spesifik.Glikoproteindalam tulang diperlukan untuk kalsifikasi matriks tulang (Junqueira, 2007)             Sel-sel tulang terdiri dariosteoblas , osteosit, dan osteoklas. Sel osteoblas merupakan sel basofilik danmononuklear dengan inti yang besar. Sel ini berperan dalam proses pembentukantulang maupun regenerasi tulang dengan cara memproduksi, mensekresi ,mendeposisi, dan memineralisasi matriks tulang (Jayakumar, 2010). Sel osteositmerupakan sel yang berasal dari osteoblas dan teletak di dalam lakuna yangterletak diantara lamela-lamela matriks. Sel osteosit memiliki inti yang gelapdengan sitoplasma basofil. Sel ini berperan aktif dalam mempertahankan matrikstulang, dan apoptosis selnya diikuti oleh resorpsi metriks tulang tersebut.

Sedangkan sl osteoklas merupakan sel raksasa yang terletak pada lakuna Howship.Sel osteoklas memiliki bagian sel yang melebar dan mengandung 5-50 inti (ataulebih) dengan sitoplasma asidofil. Sel ini berperan dalam demineralisasi dandegradasi sel yang mati (Junqueira, 2007)            Kalsium yang terkandung di dalamdaun bayam merah akan membantu proses penyembuhan patah tulang melaluistimulasi osteoblas dan supresi osteoklas. Salah satu marker yang menunjukkanpengaruh kalsium dalam penyembuhan patah tulang adalah jumlah osteoblas.

Osteoblas diamati dari preparat jaringan tulang tikus di bawah mikroskop. Sabri (2013) meneliti tentang pengaruh ekstrak etanol Cissus quadrangualis terhadappertumbuhan tikus yang diinduksi ovariektomi. Sabri menyatakan bahwa densitasosteoblas yang tinggi menunjukkan adanya proses remodelling yang masih berjalanakibat pengaruh fitoestrogen dalam ekstrak etanol Cissus quadrangualis yang berpengaruh pada aktifitas osteoblas danosteoklas. Osteoblas memiliki peranan dalam penyusunan kepadatan dannormalisasi struktur tulang karena ostoeblas akan membentuk osteosit sebagaisel tulang matur. Dengan demikian densitas osteoblas mencerminkan prosesremodelling yang terjadi. 2.

3 Anatomi dan Histologi Proses Penyembuhan Fraktur Tulang       Proses penyembuhansuatu fraktur dimulai sejak terjadi fraktur sebagai usaha tubuh untuk memperbaikikerusakan – kerusakan yang dialaminya. Penyembuhan dari fraktur dipengaruhioleh beberapa faktor lokal dan faktor sistemik, adapun faktor lokal:a.Lokasi frakturb.Jenis tulang yang mengalami fraktur.c.Reposisi anatomis dan immobilasi yang stabil.d.Adanya kontak antar fragmen.

e.Ada tidaknya infeksi.f.Tingkatan dari fraktur.Adapunfaktor sistemik adalah :a.Keadaan umum pasienb.Umurc.

Malnutrisid.Penyakit sistemik.Prosespenyembuhan fraktur terdiri dari beberapa fase, sebagai berikut :1.Fase Reaktifa.

Fase hematom dan inflamasib.Pembentukan jaringan granulasi2.Fase Reparatifa.

Fase pembentukan callusb. Pembentukantulang lamellar3.Fase Remodellinga.Remodelling ke bentuk tulang semulaJay.R. liberman, M. D.

and Gary E Friedlaender (2005)Dalamistilah-istilah histologi klasik, penyembuhan fraktur telah dibagi ataspenyembuhan fraktur primer dan fraktur sekunder. 2.3.1 Proses penyembuhan FrakturPrimer          Penyembuhan cara ini terjadi internalremodelling yang meliputi upaya langsung oleh korteks untuk membangunkembali dirinya ketika kontinuitas terganggu. Agar fraktur menjadi menyatu,tulang pada salah satu sisi korteks harus menyatu dengan tulang pada sisilainnya (kontak langsung) untuk membangun kontinuitas mekanis. Tidak adahubungan dengan pembentukan kalus. Terjadi internal remodelling dari haversiansystem dan penyatuan tepi fragmen fraktur dari tulang yang patah.

Ada 3 persyaratanuntuk remodeling Haversian pada tempat fraktur adalah:1.Pelaksanaan reduksi yang tepat2.Fiksasi yang stabil3.Eksistensi suplai darah yang cukupPenggunaan plate kompresi dinamis dalam modelosteotomi telah diperlihatkan menyebabkan penyembuhan tulang primer. Remodelinghaversian aktif terlihat pada sekitar minggu ke empat fiksasi. 2.3.

2 Proses Penyembuhan FrakturSekunder.        Penyembuhan sekunder meliputi respondalam periostium dan jaringan-jaringan lunak eksternal. Proses penyembuhanfraktur ini secara garis besar dibedakan atas 5 fase, yakni fase hematom (inflamasi), faseproliferasi, fase kalus, osifikasi dan remodelling. (Buckley, R.

, 2004,Buckwater J. A., et al,2000).a. Fase Inflamasi:Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilangdengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringanyang cedera dan pembentukan hematoma di tempat patah tulang.

Ujung fragmentulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah terjadi hipoksiadan inflamasi yang menginduksi ekpresi gen dan mempromosikan pembelahan sel danmigrasi menuju tempat fraktur untuk memulai penyembuhan. Produksi ataupelepasan dari faktor pertumbuhan spesifik, Sitokin, dapat membuat kondisimikro yang sesuai untuk :1)Menstimulasi pembentukan periosteal osteoblast dan osifikasi intramembran pada tempat fraktur,2)Menstimulasi pembelahan sel dan migrasi menuju tempat fraktur, dan3)Menstimulasi kondrosit untuk berdiferensiasi pada kalus lunak dengan osifikasiendokondralyang mengiringinya. (Kaiser 1996).Berkumpulnyadarah pada fase hematom awalnya diduga akibat robekan pembuluh darah lokal yangterfokus pada suatu tempat tertentu. Namun pada perkembangan selanjutnyahematom bukan hanya disebabkan oleh robekan pembuluh darah tetapi juga berperanfaktor faktor inflamasi yang menimbulkan kondisi pembengkakan lokal. Waktuterjadinya proses  ini dimulai saatfraktur terjadi sampai 2 – 3 minggu. b. Fase proliferasi    Kira-kira 5 hari hematom akan mengalamiorganisasi, terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentukjaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast.

Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari osteosit, sel endotel,dan sel periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matrikskolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrous dan tulang rawan(osteoid). Dari periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawantersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah tulang. Tetapigerakan yang berlebihan akan merusak struktur kalus. Pada fase ini dimulai padaminggu ke 2 – 3 setelah terjadinya fraktur dan berakhir pada minggu ke 4 – 8.c.

Fase Pembentukan Kalus   Merupakan fase lanjutan dari fase hematomdan proliferasi mulai terbentuk jaringan tulang yakni jaringan tulang kondrosityang mulai tumbuh atau umumnya disebut sebagai jaringan tulang rawan.Sebenarnya tulang rawan ini masih dibagi lagi menjadi tulang lamellar danwovenbone. Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawantumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan.

Fragmen patahantulang digabungkan dengan jaringan fibrous, tulang rawan, dan tulang seratmatur. Bentuk kalus dan volume dibutuhkanuntuk menghubungkan efek secaralangsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perlu waktutiga sampai empat minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan ataujaringan fibrous. Secara klinis fragmen tulang tidak bisa lagi digerakkan.Regulasi dari pembentukan kalus selama masa perbaikan fraktur dimediasi olehekspresi dari faktor-faktor pertumbuhan. Salah satu faktor yang paling dominandari sekian banyak faktor pertumbuhan adalah Transforming Growth Factor-Beta 1 (TGF-B1) yang menunjukkanketerlibatannya dalam pengaturan differensiasi dari osteoblast dan produksi matriks ekstra seluler. Faktor lainyaitu: Vascular Endothelial GrowthFactor (VEGF) yang berperan penting pada proses angiogenesis selamapenyembuhan fraktur.

(Chen.,et al,2004).Pusatdari kalus lunak adalah kartilogenous yang kemudian bersama osteoblast akan berdiferensiasimembentuk suatu jaringan rantai osteosit, hal ini menandakan adanya sel tulangserta kemampuan mengantisipasi tekanan mekanis. (Rubin,E,1999). Proses cepatnyapembentukan kalus lunak yang kemudian berlanjut sampai fase remodelling adalahmasa kritis untuk keberhasilan penyembuhan fraktur.

(Ford,J.L,et al,2003).Jenis-jenisKalusDikenalbeberapa jenis kalus sesuai dengan letak kalus tersebut berada terbentuk kalusprimer sebagai akibat adanya fraktur terjadi dalam waktu 2 minggu Bridging (soft) callus terjadibila tepi-tepi tulang yang fraktur tidak bersambung. Medullary (hard) Callusakan melengkapi bridging callus secaraperlahan-lahan.

Kalus eksternal berada paling luar daerah fraktur di bawah periosteum periosteal callus terbentukdi antara periosteum dan tulang yang fraktur. Interfragmentary callus merupakan kalus yang terbentuk danmengisi celah fraktur di antara tulang yang fraktur. Medullary callus terbentuk di dalam medulla tulang disekitar daerah fraktur. (Miller, 2000)d. Stadium Konsolidasi    Dengan aktifitas osteoklast dan osteoblastyang terus menerus, tulang yang immature (woven bone) diubah menjadi mature (lamellar bone). Keadaan tulang ini menjadi lebih kuatsehingga osteoklast dapat menembus jaringan debris pada daerah frakturdan diikuti osteoblast yang akan mengisi celah di antara fragmen dengantulang yang baru. Proses ini berjalan perlahan-lahan selama beberapa bulansebelum tulang cukup kuat untuk menerima beban yang normal.

e. Stadium Remodelling.    Fraktur telah dihubungkan dengan selubungtulang yang kuat dengan bentuk yang berbeda dengan tulang normal. Dalam waktuberbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terjadi proses pembentukan dan penyerapantulang yang terus menerus lamella yang tebal akan terbentukpadasisi dengan tekanan yang tinggi. Rongga medulla akan terbentuk kembalidan diameter tulang kembali pada ukuran semula. Akhirnya tulang akan kembalimendekati bentuk semulanya, terutama pada anak-anak.

Pada keadaan ini tulangtelah sembuh secara klinis dan radiologi. Gambar 2.5 Proses Penyembuhan Fraktur  (Jay. R.

liberman, M. D. and Gary EFriedlaender, 2005) 2.3 StresOksidatif2.3.1 Definisi        Stres Oksidatif adalah keadaan dimanaproduksi radikal bebas melebihi sistem pertahanan tubuh atau antioksidan(Agarwal et al, 2015).

Jika produksiradikal bebas melebihi dari kemampuan antioksidan intrasel untuk menetralkanmaka sangat potensial menyebabkan kerusakan biomolekul penyusun sel (Valko et al., 2007). 2.3.2 Radikal Bebas        Pada kondisi stres oksidatif terjadiproduksi radikal bebas yang berlebihan.

Radikal bebas adalah atom atau elektronyang tidak berpasangan sehingga tidak stabil dan cenderung menarik elektrondari molekul lainnya untuk melengkapi konfigurasi elektronnya (Suwandi, 2012).Keadaan ini menyebabkan molekul tersebut bersifat reaktif dan tidak stabilsehingga cenderung berikatan dengan senyawa lain untuk membentuk molekul yangstabil yang berakibat terjadi kerusakan terhadap sel dan jaringan karenainteraksi antara oksigen bebas dengan DNA (Reda, 2001)             Secara umum , sumber radikal bebasdapat dibedakan menjadi dua, yaitu endogen (dari dalam tubuh) dan eksogen (dariluar tubuh). Adapun sumber radikal bebas endogen (dari dalam tubuh) dan eksogen(dari luar tubuh). Adapun sumber radikal bebas endogen yaitu berasal dari aktivitasenzimatis dan non enzimatis. Aktivitas enzimatis terjadi pada prosesmetabolisme yang menghasilkan radikal bebas sebagai produk sampingan. Selainitu terdapat juga reaksi non enzimatis.

Reaksi ini merupakan reaksi oksigendengan senyawa lain dalam tubuh akibat proses radiasi dan ionisasi, sepertiyang terjadi pada proses infeksi. Adapun sumber radikal bebas eksogen berasaldar polutan, merokok, asap rokok bagi perokok pasif, asal kendaraan bermotor(Suwandi,2012)             Produksi radikal bebas yang berlebihan  menyebabkan kemampuan sistem pertahanan tubuhalami untuk mengeliminasinya mengalami gangguan sehingga mengganggu rantaireduksi oksidasi normal yang akan menyebabkan kerusakan oksidatif jaringan(Winarsi,2007).2.

3.3 Antioksidan        Antioksidan  adalah senyawa yang mempunyai struktur molekulyang dapat memberikan molekulnya kepada molekul radikal bebas. Senyawaantioksidan merupakan substansi yang diperlukan tubuh untuk menetralisirradikal bebas dan mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebasterhadap sel normal, protein dan lemak.

(Halliwell et al., 2000)             Sumber – sumber antioksidan yangdapat dimanfaatkan oleh manusia dikelompokkan menjadi tiga yaitu pertama,antioksidan yang sudah ada di dalam tubuh manusia yang dikenal dengan enzimantioksidan yang sudah ada di dalam tubuh manusia yang dikenal sebagai enzimantioksidan (SOD, GPx, dan CAT). Kedua, antioksidan sintetis yang banyakdigunakan pada produk pangan seperti BHA, BHT, PG, dan TBHQ. Ketiga,antioksidan alami yang diperoleh dari bagian-bagian tanaman seperti kayu, akar,daun, buah, bunga, biji, dan serbuk sari. Jenis antioksidan yang banyakdidapatkan dari bahan alami berupa vitamin C dan E, beta karoten, pigmenseperti antosianin, klorofil, flavonoid dan polifenol (Ardiansyah, 2007)             Mekanisme kerja antioksidan secraumum adalah menghambat oksidasi lemak. Oksidasi lemak terdiri atas tiga tahaputama yaitu inisiasi, propagasi dan terminasi.

Pada tahap inisiasi terjadipembentukan radikal asam lemak, yaitu suatu senyawa turunan asam lemak yangbersifat tidak stabil dan sangat reaktif akibat dari hilangnya satu atomhidrogen (reaksi 1). Pada tahap selanjutnya, yaitu propagasi, radikal asam  lemak akan bereaksi dengan oksigen membentukradikal peroksi (rekasi 2). Radikal peroksi lebih lanjut akan menyerang asamlemak menghasilkan hidroperoksida dan radikal asam lemak baru (reaksi 3).Inisiasi                         : RH — R* + H*                     (reaksi 1) Propagasi                     : R* + O2 —ROO*                 (reaksi 2)                                      ROO* + RH —- ROOH + R* (reaksi 3)            Hidropoeroksida yang terbentukbersifat tidak stabil dan akan terdegradasi lebih lanjut menghasilkansenyawa-senyawa karbonil rantai pendek seperti aldehida dan keton yangbertanggung jawab atas flavor makanan berlemak. Tanpa adanya antioksidan ,reaksi oksidasi lemak akan mengalami terminasi melalui reaksi antar radikalbebas membentuk kompleks bukan radikal (reaksi 4).

            Terminasi : ROO* + ROO —–nonradikal (reaksi 4)                                 R* + ROO * —- non radikal                                 R* + R* — non radikal            Antioksidan yang baik akan bereaksidengan asam lemak segera setelah senyawa tersebut terbentuk. Dari berbagaiantioksidan yang ada, mekanisme kerja serta kemampuannya sebagai antioksidasangat bervariasi. Seringkali, kombinasi beberapa jenis antioksidan memberikanperlindungan yang lebih baik (sinergisme) terhadap oksidasi dibanding dengansatu jenis antioksidan saja (Medikasari, 2000).            Keseimbangan antara antioksidan danradikal bebas menjadi kunci utama pencegahan stres oksidatif (Sofia, 2013).Tubuh manusia menghasilkan senyawa antioksidan, namun jumlahnya tidak mencukupiuntuk menetralkan  radikal bebas yangcukup tinggi sehingga diperlukan antioksidan dari luar tubuh yang bisadidapatkan melalui antioksidan alami yang berasal dari tumbuhan.

(Hernani,2006) 2.3.4 Stres Oksidatif pada fraktur         Stres oksidatif pad fraktur tulangberasal dari aktivitas fragmen tulang yang bereaksi dengan kolagen dan oksigen,serta dari aktivitas osteoklas dalam penyembuhan fraktur.

Selain itu stresoksidatif pada fraktur terjadi akibat inflamasi pada fase kedua  proses penyembuhan fraktur tulang. Apabilajumlah radikal bebas ini tidak diimbangi dengan jumlah antioksidan akanmempengaruhi mekanisme penyembuhan fraktur tulang dalam tubuh (Sheweita, 2007).            Produk stres oksidatif pada frakturtulang diantaranya adalah RNS  yaitu jenis nitrite oxide (NO)  dimanadalam jumlah normalnya berperan dalam memediasi vasodilatasi dan proliferasivaskuler pada pembentukan kalus. Namun, jika terjadi peningkatan aktivitas NO menyebabkan hambatan proliferasi dandiferensiasi osteoblas , menginduksi terjadinya apoptosis osteoblas, dansupresi fungsi osteoklas untuk mendegenerasi sel yang mati (Corbett, 1999).Jenis radikal bebas lainnya yang dapat mepengaruhi penyembuhan fraktur yakni ROS yang berperan dalam regenerasi sel. ROS akan memediasi proses lipidperoksidase , yang apabila terjadi ketidakseimbangan dalam proses terminasidapat menginisiasi terbentuknya senyawa radikal yang reaktif dan toksik.

Halini akan mengaktifkan mediator inflamasi yang dapat menyebabkan kerusakan padalipoprotein dan berakhir pada disfungsi atau kerusakan sel. Maka dari itu,jumlah ROS yang eningkat akan menjadi penghambat dari regenerasi sel dalamproses peyembuhan fraktur (Cadenas, 2002).

x

Hi!
I'm Simon!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out